Kemacetan di Stasiun Bekasi Dipicu Mobilitas 80 Ribu Penumpang per Hari, Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
KOTA BEKASI – Tingginya mobilitas penumpang di Stasiun Bekasi menjadi salah satu penyebab utama kemacetan yang hampir setiap hari terjadi di kawasan tersebut. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi mencatat, jumlah penumpang yang naik dan turun di stasiun terbesar di Kota Bekasi itu mencapai sekitar 80 ribu orang setiap harinya.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Teguh Indrianto, mengatakan tingginya aktivitas pengguna kereta jarak jauh maupun KRL berdampak langsung terhadap kepadatan lalu lintas di sekitar stasiun, terutama pada jam sibuk.
“Jumlah penumpang yang naik dan turun setiap hari mencapai sekitar 80.000 orang. Ini menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi lalu lintas di sekitar stasiun,” ujar Teguh, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, kemacetan paling parah terjadi pada sore hari ketika para pekerja pulang bersamaan dengan meningkatnya volume kendaraan di kawasan Stasiun Bekasi. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dishub menempatkan personel setiap hari guna menertibkan ojek online, angkutan kota, parkir liar, hingga berkoordinasi dengan Satpol PP dalam penataan pedagang kaki lima (PKL).
Petugas juga terus mengimbau pengemudi ojek online dan pengelola parkir agar tidak menggunakan trotoar sebagai area parkir maupun tempat menunggu penumpang.
Selain penertiban, Dishub bersama instansi terkait telah menyiapkan sejumlah rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan setelah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di kawasan Stasiun Bekasi mulai beroperasi.
Seluruh penumpang dari arah selatan nantinya akan diarahkan menggunakan JPO sehingga akses penyeberangan di dekat minimarket yang selama ini menjadi titik penyeberangan dapat ditutup. Pemerintah juga berencana menggeser palang masuk area parkir sepeda motor lebih ke dalam agar antrean kendaraan tidak meluber ke badan jalan.
Di sisi lain, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi berencana memperpanjang median jalan hingga kawasan Jalan Kemakmuran guna mencegah penyeberangan sembarangan dan putaran kendaraan yang mengganggu arus lalu lintas.
Teguh optimistis berbagai langkah tersebut mampu mengurangi kemacetan hingga 40-60 persen apabila masyarakat disiplin menggunakan JPO.
Meski demikian, ia menegaskan rekayasa lalu lintas tersebut masih bersifat konsep dan akan dievaluasi setelah diterapkan. Dalam jangka panjang, pembangunan perlintasan tidak sebidang berupa flyover atau underpass di kawasan Perjuangan dinilai menjadi solusi paling efektif untuk mengatasi kemacetan di sekitar Stasiun Bekasi.
